Thursday, March 20, 2014

"Aduh mejanya nakal, ya!"

Notes: 
I will write in bahasa only for this post, since I think it will be clearer this way. 
Apa yang akan saya tulis hanyalah hasil persepsi dan kesimpulan pribadi, bukan fakta atau hasil penelitian, jadi saya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Saya hanya ingin menulis agar menghasilkan suatu kesimpulan untuk saya pribadi atas konsep-konsep acak di otak saya yang mulai terlihat benang merahnya.

Suatu saat saya bertemu dengan salah seorang teman saya dan tidak sengaja kami berbincang tentang pola dan budaya pendidikan informal dari orang tua kepada anaknya mulai dari bayi hingga remaja. Satu hal yang sering kita, orang Indonesia, jumpai di sekeliling kita, dan kita tidak pernah menyadari akan adanya kejanggalan atau kesalahan dalam tindakan tersebut adalah: jika ada seorang anak balita bermain tidak kenal aturan dan karena kecerobohannya sendiri si anak terbentur meja, adalah hal yang lumrah jika orang tua berusaha menenangkan si anak sambil berkata "Aduh jangan nangis ya. Mejanya nakal sih, sini mejanya dipukul dulu." Secara tidak langsung saat orang tua memperlakukan anak seperti itu, yaitu membela kesalahan anak dengan menyalahkan hal/benda lain terlebih dahulu, orang tua juga menanamkan pada si anak bahwa dia selalu benar dan dia boleh menyalahkan hal/benda/orang lain terlebih dahulu atas kesalahan yang dia perbuat sendiri. Hal ini rupanya, akan tertanam kuat dalam memori anak dan akan menjadi dasar sifatnya hingga dewasa.

Coba lihat ke sekeliling, perhatikan dan renungkan apakah hal - hal berikut sering kita jumpai di sekitar kita: a. seorang siswa protes kepada gurunya saat dia mendapatkan hasil yang buruk dalam suatu ujian karena dia merasa sudah belajar dengan keras dan menjawab dengan sangat tepat, b. seseorang yang lebih tua marah kepada seseorang yang lebih muda karena si anak muda memberikan kritik atas perlakuan orang yang lebih tua, padahal sudah terbukti jika orang yang lebih tua memang pantas menerima kritikan tersebut, c. seorang pelayan di sebuah restoran tidak meminta maaf dan malah membela diri dan menyalahkan pelanggan tidak jelas dalam memberi instruksi pemesanan menu, saat pelanggan mengeluh karena si pelayan salah menghidangkan makanan.

Apa kejadian - kejadian di atas memang lumrah dan sering terjadi? Atau saya saja yang merasa begitu? Yang jelas, menurut saya kejadian - kejadian di atas sering saya jumpai dan saya mulai melihat benang merahnya dengan pola asuh anak saat balita. Jika memang hal - hal kecil yang sering di lakukan orang tua saat anak balita seperti membela anak dan menyalahkan hal/benda lain atas kesalahan yang dibuat sendiri oleh si anak akan menjadi sifat dasar si anak, tidak salah jika kejadian - kejadian di atas lumrah dijumpai. Saat terjadi masalah atau hal yang tidak disukai oleh seseorang, pola pikirnya akan cenderung   melakukan pembelaan  diri dan menyalahkan orang lain terlebih dahulu, dan bukannya berusaha tenang , mengevaluasi diri sendiri, dan mengambil pelajaran dari suatu kesalahan atau kegagalan. 

Jika benar sebegini besar impact dari kalimat yang wajar ditemui sesederhana "Aduh mejanya nakal, ya!" saya rasa ini saatnya kita mengevaluasi diri sendiri: apakah kita harus membesarkan anak dengan pola asuh yang sama dengan ibu kita dahulu atau masyarakat pada umumnya atau bahasa gaulnya follow the cultural stereotypes, ataukah sudah saatnya kita memikirkan sebuah tujuan dan strategi sebelum memutuskan semua tindakan sesederhana hal - hal yang sudah umum kita jumpai di masyarakat seperti langsung memiliki anak setelah menikah, tanpa belajar terlebih dahulu apa efek yang ditimbulkan oleh hal - hal kecil dan pendidikan informal yang kita berikan pada si anak? 

Sunday, March 16, 2014

Malaysia (Part One)


Panggung Bandaraya



Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia


Mahkamah Perusahaan Malaysia



Kuala Lumpur City Gallery




Top (H&M), Jeans (Cheap Monday), Shoes (Unbranded), Bag (Unbranded)

Last January I was traveling to Malaysia with my cousin. It was really an impulsive decision, I never thought Malaysia as one of my must-travel-lists. But then we found this cheap flight and hotel room at one of budget airlines promo and we impulsively booked it! So, after scrolling through Lonely Planet's web we made a little and simple itinerary, where we would spend our first day wandering around Kuala Lumpur historical place and architectural site, on the second day we planed to go to Melacca City (they say this city is one of UNESCO World Heritage Site), and we planed to do a little shopping and cafe hunting on the third day.

So, the picture above are how half of my first day at Kuala Lumpur look like. After arrived at Kuala Lumpur Low Cost Carrier Terminal, my cousin's Malaysian friend picked us up and help us found our hotel. We stayed at My Hotel, which is located at Jalan Pudu. I'm quite satisfied with the hotel, not as bad as what I imagined since it is a cheap hotel. Well I will show you the picture at next post. After that, we went to Pavilion Mall at Bukit Bintang and had brunch. 

Next stop is Merdeka Square, we take Rapid KL to Masjid Jamek station then walked and walked until we found Merdeka Square, yay! Too bad there was an OCBC's event around Merdeka Square so I can not walk in front of Sultan Abdul Samad building nor went to the square itself. But the district around Merdeka Square is already filled with a lot of architectural site so I'm happy enough! We walked passed Panggung Bandaraya (city's theatre), Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia, Mahkamah Perusahaan Malaysia, until finally we found Kuala Lumpur City Gallery, a place we can enter, finally. This gallery exhibit pictures, paintings, and diorama of Kuala Lumpur's history in an interesting way so I think this is a must-visit-place in Kuala Lumpur. 

Next post: Kuala Lumpur Textile Museum, Central Market, China Town, Kuala Lumpur City Center, Kuala Lumpur Cuisine.

Sunday, December 29, 2013

But, If You Look Up





Top (Tailor-made), Skirt (Tailor-made), Belt (Unbranded), Shoes (Wondershoe), Bag (Charles and Keith)