Showing posts with label opini berbahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label opini berbahasa Indonesia. Show all posts

Sunday, September 20, 2020

Person-Centered Care: Pelajaran Tentang Manusia dari Seorang Ibu dan Dua Sisir Pisang


Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (Foto diambil di Tahun 2018)

28 Juli 2018 adalah bulan ke-6 saya bertugas sebagai dokter gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di sebuah Puskesmas Pedesaan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Menjelang kelulusan sebagai seorang dokter gigi, berbagai gambaran ideal mengenai kemana langkah ini akan dibawa selalu memenuhi kepala hingga terasa sesak. Mimpi untuk dapat melanjutkan sekolah ke luar negeri serta menempuh jurusan manajemen kesehatan atau kesehatan masyarakat agar dapat memberikan impact yang luas bagi negara tercinta, pernah terlintas di pikiran. Namun, tanpa disangka, datanglah kesempatan untuk mengabdikan diri di daerah, yang dapat dikatakan pelosok, jauh dari ambisi dan gemerlap kota metropolitan. Segala keunggulan pendidikan di Universitas terkemuka di negara maju pun jauh dari bayangan. Namun, justru momen inilah yang membuka mata saya tentang makna menjadi manusia yang berguna bagi manusia lain dimulai dari lingkungan terdekat, dimulai dari saat ini, dimulai dari tanah air tercinta. 


Juni 2018, kali pertama Ibu Baiq datang ke puskesmas tempat saya bertugas dengan keluhan yang memerlukan perawatan yang terbilang cukup rumit sehingga tidak bisa saya lakukan di Puskesmas. Merujuk Ibu Baiq untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan dengan sarana yang lebih lengkap dan dokter gigi yang lebih berkompeten kemudian menjadi satu-satunya pilihan. Tak sebentar waktu yang saya perlukan untuk dapat  memberikan penjelasan kepada Ibu Baiq mengenai kondisi penyakitnya, pilihan perawatannya, langkah-langkah perawatan, hingga komplikasi pasca perawatan yang dapat terjadi. Ibu Baiq akhirnya setuju untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan di Kota Mataram. 



Poli Gigi di Puskesmas Sementara (Setelah Gempa 7 SR di Bulan Agustus 2018)

 

Sekitar 10 hari setelah saya bertemu Ibu Baiq untuk kali pertama, beliau kembali menyambangi  Poli Gigi di puskesmas tempat saya bertugas. Di hari tersebut, beliau mengeluhkan beberapa rasa tidak nyaman yang dirasakan selama masa penyembuhan pasca perawatan. Rasa tidak nyaman ini wajar dialami oleh pasien selama masa penyembuhan karena masih terjadi proses peradangan yang harusnya akan segera membaik dalam beberapa hari kemudian. Saya tenangkan Ibu Baiq dan perlahan saya coba jelaskan mengenai proses penyembuhan yang sedang dialami oleh tubuhnya, “Tenang saja, Bu. Bekas lukanya Alhamdulillah kondisinya saat ini baik. Wajar jika masih merasa sakit dan sulit membuka mulut, karena masih dalam proses penyembuhan. Yang penting Ibu tetap melanjutkan minum obat yang diresepkan dan latihan membuka mulut, Insya Allah dalam tiga sampai tujuh hari lagi akan segera membaik.” Beliau kemudian kembali merasa tenang dan pulang ke rumah dengan raut wajah yang lega.

 

Beberapa hari kemudian, saya terkejut saat melihat daftar pasien yang mendaftar ke Poli Gigi karena lagi-lagi ada nama Ibu Baiq. Satu yang saya takutkan, bahwa penyembuhannya tidak terjadi dengan baik. Namun, ternyata beliau nampak segar dan baik-baik saja. Kemudian saya persilakan beliau untuk duduk di kursi periksa, saya bertanya “Ada keluhan apa, Bu? Bagaimana sekarang kondisinya?” yang kemudian beliau jawab “Alhamdulillah sekarang sudah tidak terasa sakit sama sekali, Dok, saya bisa membuka mulut normal seperti biasa.” 

 

Kemudian refleks saya menjawab,“Wah saya kaget lho, Bu, tadi melihat nama Ibu di daftar pasien. Saya kira ada keluhan lagi,” Beliau menjawab dengan tawa sambil malu-malu berkata, “Hehehe, cuma pengen kontrol aja, Dok.”

 

Ibu Baiq pun kemudian izin keluar sebentar dari ruang periksa dan kembali dengan membawa dua sisir pisang. “Ini lho, Dok, cuma mau kasih ini, saya ambil dari kebun rumah saya. Terima kasih ya, Dok, sudah membantu merawat saya.” Betapa kagetnya saya, ternyata Ibu Baiq sengaja datang kontrol kembali untuk memberi saya pisang yang beliau ambil dari kebun rumahnya.



Satu Momen di Puskesmas 

 

Tidak menyangka bahwa momen sederhana itu kemudian menjadi momen yang menyadarkan saya betapa pentingnya memperlakukan pasien sebagai manusia, yang tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan penyakitnya, namun sebagai manusia yang juga memiliki cita-cita, pilihan, kebutuhan, serta kemampuan yang melekat dalam dirinya.


Pertemuan itu kemudian menjadi awal dari lahirnya mimpi dalam diri saya untuk bersama-sama merangkul, mendorong, dan memberi energi bagi seluruh penyedia layanan kesehatan agar bersama-sama dapat memberikan layanan kesehatan yang selalu berpegang pada prinsip bahwa pasien adalah manusia yang lebih dari penyakitnya. Person-centered care kemudian menjadi fondasi dari mimpi ini. Sebuah prinsip pelayanan kesehatan di mana pasien bersama dengan  penyedia layanan dan profesional kesehatan bersama-sama menjadi partner dalam rangkaian perawatan untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik. Sebuah prinsip yang akhirnya menjadi benih dari lahirnya TumbuhSehat.


Sunday, May 27, 2018

Traveling Smart dan Nyaman (Opini Pribadi)


Koper (Lojel), Tote bag (Fossil)

Kurang lebih 8 tahun ini intensitas traveling saya mulai meningkat. Selain berpergian sendiri atau bersama teman-teman atau keluarga untuk liburan, atau berpergian untuk seminar, orang tua saya sering berpergian ke luar kota untuk bekerja dan tidak jarang saya diajak untuk turut serta supaya dapat melihat dan menikmati kota-kota di Indonesia selagi menunggu orang tua saya rapat. Seiring meningkatnya intensitas tersebut, demand dan pengalaman saya saat berpergian pun jadi sedikit meningkat (belum expert lho, masih banyak yang jauh lebih expert! jadi seperti yang saya ungkapkan di judul, ini bukan review atau pendapat expert, murni opini saya yang beginner ini :) )

Dari yang tadinya nyaman-nyaman saja menggunakan koper apapun, sekarang saya mulai picky dengan koper. Kalau rodanya tidak smooth saat rotasi saya suka kesel sendiri, karena saat harus membawa koper ukuran besar disaat traveling sendiri, belum lagi harus transit ganti pesawat, lumayan melelahkan kalau harus menggeret-geret koper yang rodanya macet-macet. 

Dan, untuk koper saya pribadi cocok sekali dengan merk Lojel. Merk asli jepang ini cocok dengan kebutuhan dan budget saya. Inginnya sih Rimowa ya, tapi apa daya budget belum cukup, hehehe. Berikut penilaian saya untuk koper lojel:
  • Kegunaan: 4/5. Koper lojel milik saya sangat ringan, namun kuat. Jadi saat harus traveling menggunakan budget airline dan tidak dapat jatah checked in baggage lumayan membantu, bukannya berat di kopernya sendiri.
  • Portability: 4/5. Ini yang paling penting, walaupun bawaan seberat apapun, kalau body dan roda kopernya bagus, tetap nyaman saat harus menggeret koper, bisa jalan cepat di airport, efisien saat harus melewati beberapa kali bag screening, dan pastinya akan menghemat waktu kan.
  • Value: 4/5. Harga koper kabin saya seperti di atas sekitar Rp 2.000.000. Cukup murah sih  dibandingkan dengan kegunaan dan efisiensinya. Oh ya, koper Lojel saya juga awet. Sudah sekitar 5/6 tahun saya miliki (pantas saja rupanya sudah ngga karuan ya :p).
  • Durability: 4/5. Koper ini cukup awet. Dan resletingnya menggunakan teknologi double-coil zipper jadi lebih aman jika ada yang mencoba menjebol resletingnya. 



Tote bag (Fossil)

Sementara, untuk tas tangan, saya bukan tipe orang yang suka menggunakan backpack dan alasannya murni karena bukan style saya hahaha. Jadi, jatuhlah pilihan saya pada tote bag yang memiliki resleting, supaya muat banyak, bisa mencakup essential things saya (dompet, make up bag, stationery case yang berisi bolpoin, earphones, charger, powerbank, buku bacaan, notebook, dan kamera saya) dan juga aman. Aman bagi saya saat menentukan untuk beli tas ini adalah yang penting memiliki resleting. Saya belum kepikiran untuk beli tas yang tahan saat digunting/disobek menggunakan pisau ataupun memiliki kunci sehingga aman dari copet. Baru kemarin saat ke Tibet dan bertemu dengan mba Anggi, dia memberi tahu saya pengalamannya saat kecopetan dan sejak itu dia menggunakan tas yang anti sobek dan memiliki kunci saat traveling. Next time sepertinya saya akan menabung dan mencari tas dengan kriteria tersebut yang sesuai dengan style saya. Thanks infonya, mba Anggi! :)

Ngomong-ngomong soal tas Fossil saya dengan tipe "Emma Shopper", berikut penilaian saya dan kenapa saya memilih tas ini untuk teman traveling saya:
  • Kegunaan: 4/5. Saya pribadi suka dengan ruang penyimpanannya yang luas, jadi semua essential things saya, termasuk kamera mirrorless Fujifilm XA3 saya bisa masuk di dalamnya. Yang paling saya suka, back pocket di belakang tas ini bisa untuk menyimpan passpor, ktp, handphone, dan boarding pass. Jadi, saat semua barang-barang penting aman di dalam bagian yang ber-resleting, barang-barang yang harus sering keluar masuk selama di airport seperti boarding pass dan sejenisnya bisa diletakkan di back pocket. Efisien deh, karena tidak perlu berkali-kali membuka tutup resleting!
  • Value: 3/5. Harga tas tersebut sekitar Rp 2.000.000. Cukup sesuai dengan kegunannya, namun baru 1 tahun beberapa kulitnya sudah sedikit mengelupas :(
  • Durability: 3/5. Seperti yang saya bilang di atas, baru satu tahun tapi beberapa kulitnya sudah mengelupas.
  • Style: 4/5. Saya suka hampir semua pilihan warna dari seri tas Fossil "Emma Shopper" ini. Dan sesuai dengan taste saya sih, simple, berwarna calm dan netral, dan cocok dipasangkan dengan dress, rok, ataupun pants.

  Debit Prioritas (Bank Jatim), Kartu Kredit Co-Branding (BNI Garuda Indonesia Platinum), 
Kartu Asuransi Perjalanan (Zurich)






Concordia Lounge at Lombok International Airport

Mengenai keuangan saat traveling, menurut saya 3 hal ini penting sekali untuk dimiliki:

1. Asuransi perjalanan. Beberapa waktu yang lalu, ibu saya mengalami patah tulang tangan saat main ski di Korea. Ibu langsung dibawa ke klinik terdekat, dilakukan foto radiologi dan  diberikan emergency stabilization and fixation. Berikutnya ibu harus menjalani operasi dengan biaya yang tidak sedikit. Kebayang ngga, kalau ibu tidak punya asuransi perjalanan? Untungnya kami selalu menggunakan asuransi perjalanan. Ada dua tipe asuransi perjalanan: tahunan dan sekali jalan. Karena tahun ini saya sedang PTT dan tidak bisa terlalu banyak traveling saya memilih membeli asuransi hanya saat akan berpergian. Tapi, kalau kita sering traveling lebih baik membeli asuransi perjalanan tahunan sih, karena harganya akan jauh lebih murah, mulai Rp 2.500.000 untuk 1 tahunnya.
  • Sebagai gambaran, saat ke Tibet kemarin karena perjalanan yang mencapai ketinggian 5.200 meter di atas permukaan laut, saya beresiko terkena Accute Mountain Sickness (AMS) hingga edema cerebral dan edema paru yang tentunya beresiko kematian. Kebayang ga jika saya tidak memiliki asuransi dan terserang AMS saat di ketinggian 5.200 meter sementara untuk menyembuhkan AMS, sebaiknya kita segera turun ke ketinggian yang lebih rendah secepatnya? Dengan asuransi, saya memiliki akses ke emergency care yang bisa menjemput saya dengan helikopter  in case terjadi hal yang tidak diinginkan. Asuransi juga bisa memenuhi biaya yang dibutuhkan  untuk keluarga kita yang ada di Indonesia berangkat ke tempat kita dirawat untuk menjaga kita, seandainya kita harus dirawat di luar negeri saat dalam masa perjalanan. Bayangkan kalau tidak punya asuransi, berapa biaya yang harus dikeluarkan? Belum lagi biaya  rumah sakit di luar negri yang pastinya gila-gilaan. 
  • Saat ke Tibet kemarin saya membeli asuransi Zurich Passport Worldwide seharga Rp. 880.000 yang menyanggupi destinasi yang berada di ketinggian 5.200 meter di atas   permukaan laut. Mengenai asuransi, banyak perusahaan penyedia asuransi perjalanan, yang penting baca saja polisnya dan pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan.
  • Contoh case lainnya, saat kita berlibur di negara yang sedang musim dingin, tidak disangka  koper kita tidak sampai saat kita mendarat karena tertinggal di tempat transit, pasti kita harus membeli keperluan seperti coat dan boots dong jika tidak ingin kedinginan? Sementara harga  barang-barang tersebut tidak murah. Nah, asuransi akan mengganti keperluan kita tersebut. Berapa extra budget yang harus dikeluarkan jika tidak memiliki asuransi? Berkisar  5-10 juta sih paling tidak :(
  • Jika ingin mencari asuransi perjalanan bisa cek web berikut Futuready. Lumayan banyak pilihannya, tapi sayang waktu akan ke Tibet kemarin, saya belum menemukan yang mau menanggung perjalanan yang beresiko dan di atas 3.000 meter di atas permukaan laut. 
2. Kartu kredit co-branding dengan maskapai penerbangan. Untuk traveling, kartu kredit pasti dibutuhkan banget. Mulai dari untuk keperluan booking tiket pesawat, penginapan, kereta, pembayaran sewaktu di luar negri, sampai promo-promo travel fair yang sering diberikan untuk kartu kredit tertentu. 
  • Tapi untuk saya pribadi, kartu kredit paling bermanfaat sebagai alat pembayaran supaya cashless dan termonitor dengan bonus poin yang diconvert menjadi miles maskapai penerbangan yang bisa ditukarkan dengan tiket pesawat gratis hingga upgrade seat ke business class. Saya pribadi menggunakan BNI credit card co-branding dengan Garuda Indonesia. Untuk setiap transaksi sejumlah Rp 24.000 akan mendapatkan 2 miles Garuda Indonesia. Lumayan kan? 
  • Jadi, setiap transaksi diusahakan sebisa mungkin menggunakan kartu kredit dibanding uang cash. Namun pembayaran dilakukan sebelum jatuh tempo sehingga tidak terkena bunga. Intinya cuma mengganti penggunaan uang cash jadi sistem cashless, dengan bonus miles! Dalam setahun tiket pesawat PP gratis Surabaya-Bali sudah pasti di tangan, deh. Jadi ngga usah pusing mikir extra budget untuk tiket pesawat liburan, paling tidak sekali setahun tiket pesawat gratis sudah di tangan :)
  • Kartu kredit biasanya memberikan akses gratis ke airport lounge. Nah ini juga akan membuat hemat buat kita yang sering berpergian. Coba bayangin deh, kalau sebulan sekali kita terbang dan males menunggu boarding di gate. Bawaannya ingin santai-santai di Starbucks aja. Sekali pesan kopi di Starbucks berkisar Rp. 60.000. Dalam sekali perjalanan pulang-pergi, kita akan menghabiskan Rp 120.000. Kalau dikalikan 12 bulan, totalnya Rp. 1.440.000. Gila ngga tuh? Dengan kartu kredit, kita bisa menunggu di airport lounge yang pastinya lebih nyaman dan sepi dibanding dengan menunggu di gate, makan kenyang dan minum kopi gratis, bisa sholat di mushola lounge yang lebih bersih dan sepi, lebih banyak port untuk charging semua gadget sepuasnya, dan bisa touch up make up di kamar mandi yang lebih bersih dan wangi hehe :)
3. Kartu debit prioritas. Kalau sudah agak lama bekerja dan bisa mengumpulkan uang, daripada uang disimpan di tabungan konvensional, coba deh cari tahu soal tabungan prioritas yang paling menguntungkan dan sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Bank buku 4 biasanya memiliki syarat yang lumayan susah untuk nasabahnya jika ingin mendaftar sebagai nasabah prioritas.

Tapi sekarang ada kok bank buku 3 yang bisa membuatkan rekening prioritas dengan minimal tabungan tidak sebesar bank buku 4. Karena home base saya di Jawa Timur, Bank Jatim cukup menguntungkan dan pas untuk saya. 
  • Nasabah prioritas mendapat personal relationship manager. Kalau sedang bingung soal asuransi perjalanan yang paling pas, tiket pesawat dan hotel yang recommend dan ngga sempat riset sendiri, tinggal kontak relationship manager kita saja dan dia akan bantu mencarikan. Seperti waktu saya bingung mencari asuransi perjalanan yang mau menanggung perjalanan ke ketinggian di atas 3000 meter kemarin, saya dibantu oleh relationship manager saya. 
  • Sama seperti kartu kredit, kartu debit prioritas juga memberi akses gratis ke airport lounge di seluruh Indonesia. 
  • Di bandara-bandara besar di Indonesia, ada baggage handling khusus untuk nasabah prioritas. Tidak perlu antri check-in atau baggage drop deh, tinggal jalan santai dan menunggu di lounge karena bagasi kita akan dibantu diurus oleh petugas secara cuma-cuma. Boarding pass beserta nomor bagasi akan diantarkan ke lounge. Just wait and chill :p
  • Agak out of topic tapi tambahan penting nih, tabungan ini dimasukkan sebagai deposito. Lumayan lho bunganya, bisa untuk dana berlibur lagi, dapet deh dana untuk jalan-jalan ke Jepang tanpa harus kerja hehehe, jadi lagi-lagi dana untuk traveling sudah secured deh :p
So far, itu hal-hal penting yang bisa dipertimbangkan untuk smart traveling yang nyaman menurut saya pribadi. Saya bukan expert dan benar-benar masih amatir. Jadi jangan mentah-mentah percaya apa kata saya, sih hehe. Coba riset dan baca-baca sendiri, kalau perlu tanya kepada ahlinya sebelum memutuskan apapun! But I hope my information would be helpful dan kalau ada yang ingin didiskusikan, do comment below or feel free to email me and I will be happy to help :)

Tuesday, January 9, 2018

Bersusah-susah, yuk!



"Aku ngga nyangka sih, ternyata kamu juga harus nabung untuk beli tas yang kamu pengenin."
"Wah beneran kamu pake lip cream merk lokal W*****? Aku kira kamu bakal pake Kylie atau Girlactik."
"Aku kira kamu bukan tipe orang yang mau kerja di tempat terpencil." (dalam konteks pembicaraan dengan topik dokter gigi PTT (Pegawai Tidak Tetap) atau dokter gigi tenaga kontrak, program pemerintah daerah untuk dokter/dokter gigi yang akan ditempatkan di puskesmas daerah selama 1 tahun)

Wah sering sekali saya mendengar pendapat lawan bicara saya dengan konteks mirip seperti contoh di atas.  Jelas saya punya andil hingga lawan bicara saya memandang saya dalam sudut pandang tersebut. Di media sosial memang saya jarang mengunggah foto ataupun cerita ketika saya sedang berjuang, yang saya unggah lebih sering foto-foto atau cerita ketika saya traveling, berpartisipasi di event tertentu, bertemu dengan orang-orang hebat, hingga foto OOTD (Outfit of The Day). Kebanyakan manusia memang begitu ya, sepertinya? 

Saya pribadi merasa tidak nyaman sih mengunggah kesulitan-kesulitan atau perjuangan yang sedang saya hadapi, lebih karena takut kesannya saya mengeluh dan akhirnya membuat orang lain tidak nyaman. Sementara jika saya mengunggah cerita traveling misalnya, paling tidak ada hal positif yang bisa diambil, contohnya tentang bagaimana indahnya pariwisata di Indonesia sehingga kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negri saat ingin berlibur, tentang betapa terawat dan edukatifnya museum yang dimiliki perseorangan di Yogyakarta sehingga kita paling tidak bisa terinspirasi untuk juga berbuat sesuatu untuk tanah air kita. 

Tapi jika dipikir secara logika, tidak mungkin hidup ini tanpa berjuang, iya kan? Everybody is fighting their own battles we know nothing about, katanya. Tidak usah membahas terlalu jauh tentang battle yang sebegitu rumitnya dulu mungkin, untuk bisa staycation di hotel-hotel yang saya review di blog ini  contohnya, saya seperti berjuta-juta manusia lainnya juga harus bekerja dan menabung. Berangkat dari jam 8 pagi non stop hingga jam 9 malam, bahkan sudah biasa untuk makan siang atau makan malam saya lakukan di mobil sambil menyetir dari tempat kerja yang satu ke tempat kerja berikutnya. Makanan pun saya bawa bekal dari rumah, begitu juga untuk air minum saya bawa botol berisi air dari rumah. Supaya hemat dan tidak harus jajan di luar. Supaya uangnya bisa ditabung untuk investasi lain dan traveling. Saya juga sering bekerja di hari Sabtu dan Minggu, ketika normalnya waktu tersebut bisa diluangkan untuk sekedar jajan di coffee shop atau nonton di bioskop.

Saya pun jarang bertemu dengan bapak dan ibu karena mereka berdua sibuk bekerja. Kalau di film sering ada adegan seorang anak yang merasa broken home dan tidak diperhatikan orang tuanya karena sibuk bekerja, saya justru terinspirasi dari orang tua saya. Rumah saya sudah mirip seperti restoran cepat saji 24 jam. Karena rasanya seperti selalu ada kehidupan 24 jam non stop. Sering bapak baru pulang jam 12 malam dan harus penerbangan paling pagi keesokan harinya, jam 4 pagi beliau sudah berangkat ke bandara. Dalam satu hari pun beliau bisa ada di 3 kota berbeda sampai-sampai saya sering bingung saat ada yang tanya "Bapak lagi dimana?" I often lose track of him. 

Tapi jujur justru saya terinspirasi. Dari situ saya terbiasa dengan kondisi bahwa untuk bisa merasakan pengalaman hidup yang maksimal memang harus bersusah-susah. Pasti ada opportunity cost yang harus dibayar. Untuk bisa traveling ya harus berkerja dan berhemat, untuk bisa jadi dokter yang hebat ya harus belajar setiap hari dan mau berjuang dari bawah, untuk merasakan pengalaman hidup dan mengenal tanah air kita hingga suatu hari nanti kita bisa berkontribusi dengan maksimal ya harus siap melihat dengan mata kepala sendiri dan merasakan bagaimana hidup di daerah underprivileged.
 
Siddhartha Gautama tidak menjadi Buddha dengan menjadi raja di kerajaannya. Juga tidak dengan berkeliling dari kerajaan satu ke kerajaan yang lain. Siddhartha Gautama menjadi Buddha dengan terjun ke rakyatnya yang hidup serba kesulitan, dengan menjadi pertapa, dengan meninggalkan kehidupannya yang serba berkecukupan. Intinya tidak mungkin sih hidup itu enak terus, gampang terus, dibalik semua gemerlap yang saya dan semua manusia lain unggah di media sosial, saya coba untuk positive thinking dan percaya bahwa mereka pun merasakan tahap bersusah-susah dan berjuang. 

Jujur saya berharap semoga saya pun selalu diberi keterbukaan pikiran untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang dan selalu siap untuk memberikan effort yang maksimal agar dapat menjalani hidup yang bermakna, humble yet contentful life, I hope. Mungkin di antara yang tidak sengaja membaca unggahan ini juga ada yang sering mendapat tanggapan seperti di atas dari lawan bicara? Bagaimana menurut kamu, nih?

Wednesday, December 20, 2017

Basa Basi Berbobot


Kadang saya ingin menyampaikan opini saya panjang lebar, namun jika saya menulis dalam Bahasa Inggris ada kemungkinan pesan yang saya maksud tidak tersampaikan seluruhnya, maka terpikirlah untuk membuat label ini "Opini Berbahasa Indonesia". 

Terinspirasi dari cara ibu saya memperlakukan orang lain, saya sangat ingin beropini mengenai masalah yang satu ini. Saat bertemu dengan orang lain, yang lebih tua, yang seumuran, maupun yang lebih muda seperti teman-teman saya, yang akan ditanyakan ibu biasanya adalah "Sedang sibuk apa nih sekarang?" dan bukannya pertanyaan-pertanyaan tanpa pertimbangan pemikiran seperti "Udah lulus belum kuliahnya?" atau "Udah kerja dimana sekarang?" atau "Gimana udah serius belum sama pacarnya? Kapan nikahnya?" 

Mungkin ibu yang dulu juga tidak sebijak sekarang, tapi sejak mengamati sendiri bagaimana saya baru bisa menyelesaikan pendidikan profesi dokter gigi setelah 3 tahun, diawali dengan pendidikan sarjana 4 tahun, dengan total masa studi untuk mendapat gelar drg. sejumlah 7 tahun, waktu yang cukup lebih lama dibanding dengan teman-teman saya yang mungkin di umur seperti saya sekarang sudah menyelesaikan program master, bekerja beberapa tahun, ataupun berkeluarga. Ibu mengamati bahwa hal ini  terjadi bukan karena saya malas-malasan, tapi karena memang sistemnya begitu. 

Sejak saat itu ibu menjadi lebih bijak, beliau tahu betul bahwa kehidupan ini tidak bisa disama ratakan. Bahwa kita tidak tahu apa yang dilalui orang lain dan bahwa kita bisa berperilaku lebih bijak, mengesampingkan segala stereotype, dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. 

Sejak saat itu ibu terbiasa membuka pertanyaan basa-basi dengan pertanyaan "Sedang sibuk apa nih sekarang?" karena dengan positive open question semacam itu, jawabannya bisa beragam dan pasti lawan bicara lebih mudah menjawab, karena dia dapat menjawab mengenai apapun yang sekarang sedang dia gemari. Sedang sibuk traveling, ada project kecil-kecilan membuat start up NGO di bidang literasi berupa donasi buku untuk perpustakaan di daerah terpencil, sampai sedang sibuk les memasak atau sedang fokus kembali meneruskan kursus piano. Semua passion yang sedang membuat  hidup si lawan bicara terasa memiliki tujuan bisa jadi jawabannya.

Dari situ percakapan selalu bisa mengalir dengan ritme dan topik yang positif. Tidak hanya mengenai topik pribadi, kadang topik juga berkembang ke general knowledge seperti saat si lawan bicara bercerita tentang kesibukannya belajar diving, tidak terasa topik mengenai kondisi pariwisata dan kebijakan pemerintah di lokasi-lokasi pariwisata Indonesia yang mulai naik daun bisa jadi bahan pembicaraan. 

Saya pribadi merasa sangat nyaman jika berada dalam adegan basa-basi (sedikit) berbobot semacam itu. Saya juga tidak menyangka pertanyaan pembuka sesederhana "Sedang sibuk apa nih sekarang?" ternyata jauh lebih considerate terhadap perasaan lawan bicara. Dari ibu saya belajar, lagi dan lagi. Mungkin sudah saatnya kita sadar bahwa basa-basi pun harus menggunakan 100% awareness otak dan hati, bagaimana menciptakan topik yang positif, topik yang tidak membuat lawan bicara tidak nyaman, topik yang jika dikembalikan kepada kita juga akan mudah untuk kita jawab dengan aura positif. 

Tentang basa-basi berbobot, bagaimana nih menurut kamu? Atau mungkin ada yang suka kesel juga saat ada yang melontarkan pertanyaan yang kurang considerate? :)

Thursday, March 20, 2014

"Aduh mejanya nakal, ya!"

Notes: 
I will write in bahasa only for this post, since I think it will be clearer this way. 
Apa yang akan saya tulis hanyalah hasil persepsi dan kesimpulan pribadi, bukan fakta atau hasil penelitian, jadi saya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Saya hanya ingin menulis agar menghasilkan suatu kesimpulan untuk saya pribadi atas konsep-konsep acak di otak saya yang mulai terlihat benang merahnya.

Suatu saat saya bertemu dengan salah seorang teman saya dan tidak sengaja kami berbincang tentang pola dan budaya pendidikan informal dari orang tua kepada anaknya mulai dari bayi hingga remaja. Satu hal yang sering kita, orang Indonesia, jumpai di sekeliling kita, dan kita tidak pernah menyadari akan adanya kejanggalan atau kesalahan dalam tindakan tersebut adalah: jika ada seorang anak balita bermain tidak kenal aturan dan karena kecerobohannya sendiri si anak terbentur meja, adalah hal yang lumrah jika orang tua berusaha menenangkan si anak sambil berkata "Aduh jangan nangis ya. Mejanya nakal sih, sini mejanya dipukul dulu." Secara tidak langsung saat orang tua memperlakukan anak seperti itu, yaitu membela kesalahan anak dengan menyalahkan hal/benda lain terlebih dahulu, orang tua juga menanamkan pada si anak bahwa dia selalu benar dan dia boleh menyalahkan hal/benda/orang lain terlebih dahulu atas kesalahan yang dia perbuat sendiri. Hal ini rupanya, akan tertanam kuat dalam memori anak dan akan menjadi dasar sifatnya hingga dewasa.

Coba lihat ke sekeliling, perhatikan dan renungkan apakah hal - hal berikut sering kita jumpai di sekitar kita: a. seorang siswa protes kepada gurunya saat dia mendapatkan hasil yang buruk dalam suatu ujian karena dia merasa sudah belajar dengan keras dan menjawab dengan sangat tepat, b. seseorang yang lebih tua marah kepada seseorang yang lebih muda karena si anak muda memberikan kritik atas perlakuan orang yang lebih tua, padahal sudah terbukti jika orang yang lebih tua memang pantas menerima kritikan tersebut, c. seorang pelayan di sebuah restoran tidak meminta maaf dan malah membela diri dan menyalahkan pelanggan tidak jelas dalam memberi instruksi pemesanan menu, saat pelanggan mengeluh karena si pelayan salah menghidangkan makanan.

Apa kejadian - kejadian di atas memang lumrah dan sering terjadi? Atau saya saja yang merasa begitu? Yang jelas, menurut saya kejadian - kejadian di atas sering saya jumpai dan saya mulai melihat benang merahnya dengan pola asuh anak saat balita. Jika memang hal - hal kecil yang sering di lakukan orang tua saat anak balita seperti membela anak dan menyalahkan hal/benda lain atas kesalahan yang dibuat sendiri oleh si anak akan menjadi sifat dasar si anak, tidak salah jika kejadian - kejadian di atas lumrah dijumpai. Saat terjadi masalah atau hal yang tidak disukai oleh seseorang, pola pikirnya akan cenderung   melakukan pembelaan  diri dan menyalahkan orang lain terlebih dahulu, dan bukannya berusaha tenang , mengevaluasi diri sendiri, dan mengambil pelajaran dari suatu kesalahan atau kegagalan. 

Jika benar sebegini besar impact dari kalimat yang wajar ditemui sesederhana "Aduh mejanya nakal, ya!" saya rasa ini saatnya kita mengevaluasi diri sendiri: apakah kita harus membesarkan anak dengan pola asuh yang sama dengan ibu kita dahulu atau masyarakat pada umumnya atau bahasa gaulnya follow the cultural stereotypes, ataukah sudah saatnya kita memikirkan sebuah tujuan dan strategi sebelum memutuskan semua tindakan sesederhana hal - hal yang sudah umum kita jumpai di masyarakat seperti langsung memiliki anak setelah menikah, tanpa belajar terlebih dahulu apa efek yang ditimbulkan oleh hal - hal kecil dan pendidikan informal yang kita berikan pada si anak?