Wednesday, March 31, 2021

Bandung Bound




The homey ambience of House Sangkuriang, Bandung

Me & Husband


Ketupat Tahu at Dago





Sumber Hidangan, an old bakery at Braga

Kopi Lay & Sagoo, our favourite food for breakfast in Bandung

Warung Lela, its Yamien Manis is the besttt! And oh the view from the restaurant too!



Have this little rituals, chilling at Warung Taru in the afternoon before heading back to Jakarta

Last February 2020, just before the announcement of the first COVID-19 case in Indonesia, my husband and I went to Bandung for one of our friend's wedding. It turns out to be a mini honeymoon moment for us, for since our marriage we hadn't have the chance to travel somewhere far because I have to attend my study as an endodontic resident at University of Indonesia.

We randomly picked a hotel that looks homey and have a good location, and it turns out to be one of our favourite hotel in Bandung, House Sangkuriang! The place is small, located in the middle of Dago, yet turns out to be so serene and homey. And a year after the pandemic strikes, February 2021, we feel the urge to have a little vacation for us to be able to have the change of sceneries, clear our mind, and break our routines to be able to get back in the days with a fresh mind. So, since a long journey at a time like this is not really convenient yet, we chose to travel to Bandung again.

Had the chance to visit some of our favourite place in Bandung as mentioned above, we felt a little recharged. A 3 days quality time just for the two of us is enough for us to have a long and deep talk, sharing our dreams, plans, important values, and hopes. Since our university days, Bandung has been the place for us to reconnect, since we have a long distance relationship for 9 years. And here we are after getting married, Bandung is still one of our favourite cities, possessing a lot of good memories we will never forget ♡

Friday, January 1, 2021

About being Grateful Despite The Limitation

 


A time well spent with husband


Oh hi husband!


Missing eating this mercimek corbasi when it's winter in Istanbul

Oh hi blog! Only wrote 2 post along 2020! Oh what a bad writer I am! And now, me being me, just trying to make up for my laziness by being productive in the first day of new year. 

On January 2020, I remember still being occupied with my life as an endodontic resident at University of Indonesia. I was still struggling to juggle my time being a wife, a dentist and also a student. Then suddenly came the pandemic, everything had to change. From our lifestyle, the way we socialise, the way I work as a dentist, and the way I study. Again, just when I begin to getting used to all of my routine, I had to adjust it a little bit to the current situation.

To be able to adapt to whatever condition and situation I faced is probably not the hardest thing to do. But, I desperately missing and longing for how easy inspiration and thoughts came into my mind when I was surrounded by open spaces; paddyfield, beaches, mountains, and the beautiful sceneries of the last place I lived, my second home, Lombok. 

Surrounded by tall buildings that sometimes felt suffocating turns out being the main reason it is so hard for me to be grateful. Because I felt it hard to get a clear mind and inspiration in a place where people rushed and anxious just to get a living, this metropolitan city I am now living in. 

Turns out, being grateful despite the limitation is not that easy. I felt like I always am grateful in each and everyday when I lived in Lombok. I felt like everyday I get inspired. I felt like everyday thoughts were flooding my mind. 

But, it is now time to try to be forever grateful, despite the limitation. A few days ago I spent some quality time with my husband, eating Turkish cuisine at Turkuaz Jakarta. We actually have a plan to spend some time at Istanbul, but, here come the pandemic. So, this is enough for the moment I guess. Really miss eating mercimek corbasi in the middle of Istanbul during snow!

Well, now I can spend more quality time with my loved one. Shouldn't it already one thing to be grateful for? Hello 2021, I guess I'm ready!

Sunday, September 20, 2020

Person-Centered Care: Pelajaran Tentang Manusia dari Seorang Ibu dan Dua Sisir Pisang


Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (Foto diambil di Tahun 2018)

28 Juli 2018 adalah bulan ke-6 saya bertugas sebagai dokter gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di sebuah Puskesmas Pedesaan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Menjelang kelulusan sebagai seorang dokter gigi, berbagai gambaran ideal mengenai kemana langkah ini akan dibawa selalu memenuhi kepala hingga terasa sesak. Mimpi untuk dapat melanjutkan sekolah ke luar negeri serta menempuh jurusan manajemen kesehatan atau kesehatan masyarakat agar dapat memberikan impact yang luas bagi negara tercinta, pernah terlintas di pikiran. Namun, tanpa disangka, datanglah kesempatan untuk mengabdikan diri di daerah, yang dapat dikatakan pelosok, jauh dari ambisi dan gemerlap kota metropolitan. Segala keunggulan pendidikan di Universitas terkemuka di negara maju pun jauh dari bayangan. Namun, justru momen inilah yang membuka mata saya tentang makna menjadi manusia yang berguna bagi manusia lain dimulai dari lingkungan terdekat, dimulai dari saat ini, dimulai dari tanah air tercinta. 


Juni 2018, kali pertama Ibu Baiq datang ke puskesmas tempat saya bertugas dengan keluhan yang memerlukan perawatan yang terbilang cukup rumit sehingga tidak bisa saya lakukan di Puskesmas. Merujuk Ibu Baiq untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan dengan sarana yang lebih lengkap dan dokter gigi yang lebih berkompeten kemudian menjadi satu-satunya pilihan. Tak sebentar waktu yang saya perlukan untuk dapat  memberikan penjelasan kepada Ibu Baiq mengenai kondisi penyakitnya, pilihan perawatannya, langkah-langkah perawatan, hingga komplikasi pasca perawatan yang dapat terjadi. Ibu Baiq akhirnya setuju untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan di Kota Mataram. 



Poli Gigi di Puskesmas Sementara (Setelah Gempa 7 SR di Bulan Agustus 2018)

 

Sekitar 10 hari setelah saya bertemu Ibu Baiq untuk kali pertama, beliau kembali menyambangi  Poli Gigi di puskesmas tempat saya bertugas. Di hari tersebut, beliau mengeluhkan beberapa rasa tidak nyaman yang dirasakan selama masa penyembuhan pasca perawatan. Rasa tidak nyaman ini wajar dialami oleh pasien selama masa penyembuhan karena masih terjadi proses peradangan yang harusnya akan segera membaik dalam beberapa hari kemudian. Saya tenangkan Ibu Baiq dan perlahan saya coba jelaskan mengenai proses penyembuhan yang sedang dialami oleh tubuhnya, “Tenang saja, Bu. Bekas lukanya Alhamdulillah kondisinya saat ini baik. Wajar jika masih merasa sakit dan sulit membuka mulut, karena masih dalam proses penyembuhan. Yang penting Ibu tetap melanjutkan minum obat yang diresepkan dan latihan membuka mulut, Insya Allah dalam tiga sampai tujuh hari lagi akan segera membaik.” Beliau kemudian kembali merasa tenang dan pulang ke rumah dengan raut wajah yang lega.

 

Beberapa hari kemudian, saya terkejut saat melihat daftar pasien yang mendaftar ke Poli Gigi karena lagi-lagi ada nama Ibu Baiq. Satu yang saya takutkan, bahwa penyembuhannya tidak terjadi dengan baik. Namun, ternyata beliau nampak segar dan baik-baik saja. Kemudian saya persilakan beliau untuk duduk di kursi periksa, saya bertanya “Ada keluhan apa, Bu? Bagaimana sekarang kondisinya?” yang kemudian beliau jawab “Alhamdulillah sekarang sudah tidak terasa sakit sama sekali, Dok, saya bisa membuka mulut normal seperti biasa.” 

 

Kemudian refleks saya menjawab,“Wah saya kaget lho, Bu, tadi melihat nama Ibu di daftar pasien. Saya kira ada keluhan lagi,” Beliau menjawab dengan tawa sambil malu-malu berkata, “Hehehe, cuma pengen kontrol aja, Dok.”

 

Ibu Baiq pun kemudian izin keluar sebentar dari ruang periksa dan kembali dengan membawa dua sisir pisang. “Ini lho, Dok, cuma mau kasih ini, saya ambil dari kebun rumah saya. Terima kasih ya, Dok, sudah membantu merawat saya.” Betapa kagetnya saya, ternyata Ibu Baiq sengaja datang kontrol kembali untuk memberi saya pisang yang beliau ambil dari kebun rumahnya.



Satu Momen di Puskesmas 

 

Tidak menyangka bahwa momen sederhana itu kemudian menjadi momen yang menyadarkan saya betapa pentingnya memperlakukan pasien sebagai manusia, yang tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan penyakitnya, namun sebagai manusia yang juga memiliki cita-cita, pilihan, kebutuhan, serta kemampuan yang melekat dalam dirinya.


Pertemuan itu kemudian menjadi awal dari lahirnya mimpi dalam diri saya untuk bersama-sama merangkul, mendorong, dan memberi energi bagi seluruh penyedia layanan kesehatan agar bersama-sama dapat memberikan layanan kesehatan yang selalu berpegang pada prinsip bahwa pasien adalah manusia yang lebih dari penyakitnya. Person-centered care kemudian menjadi fondasi dari mimpi ini. Sebuah prinsip pelayanan kesehatan di mana pasien bersama dengan  penyedia layanan dan profesional kesehatan bersama-sama menjadi partner dalam rangkaian perawatan untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik. Sebuah prinsip yang akhirnya menjadi benih dari lahirnya TumbuhSehat.